Mengungkap Peradaban Besi di Danau Matano

Danau Matano tidak sepopuler Danau Toba, namun Danau Matano merupakan danau terdalam pertama se-Asia Tenggara. Kedalaman Danau Matano 590 meter. Di dalam danau menyimpan berbagai keunikan alam maupun sejarah.

Keunikan lain, di tepi danau terdapat goa yang di dalamnya berisi benda peninggalan di masa lampau, seperti tombak, parang, mangkung, dan piring yang berumur ratusan tahun. Selain itu, ada goa yang disebut Goa Tengkorak, karena di dalam goa banyak ditemukan tengkorak manusia dan banyak kelelawar yang tinggal di goa ini. Pada zaman dulu, goa merupakan tempat pemakaman. Jika ditelusuri lebih dalam, Danau Matano merupakan rumah untuk sejumlah fauna. Beberapa fauna merupakan hewan langka yang hanya terdapat di Danau Matano, yaitu ikan Buttini. Ikan Buttini dijuluki sebagai ikan purba karena bentuknya seperti binatang purba. Bentuk ikan Buttini dengan bola mata menonjol keluar serta kulitnya berwarna kecoklatan.

Danau Matano

Danau Matano

Photograph by (Shutterstock/Putu artana

Matano adalah nama sebuah danau besar yang terletak di Sulawesi Selatan. Menurut riset WWF, Danau Matano merupakan danau terdalam di Asia Tenggara dan Urutan ke-8 di dunia dengan kedalam 590 m. Danau ini berada di ketinggian 382 Mdpl yang dikelilingi pegunungan verbik di Sulawesi Selatan dan memiliki panjang mencapai 28 km.

Danau Matano merupakan danau tektonik yang terbentuk dari pergerakan lempeng kerak bumi pada masa Pliosin sekitar 1-4 juta tahun yang lalu (Tamuntuan et al., 2010).

Danau Matano terletak di atas patahan aktif sehingga patahan tersebut dikenal sebagai Sesar Matano dan menurut para ahli diperlukan waktu sekitar empat juta tahun agar patahan dan lipatan kerak bumi ini terisi air dan akhirnya menjadi sebuah danau.

Lembaga Adat Kerajaan
Rahumpu’u

Asal mula Kerajaan Rahampu’u (Matano) dimulai saat Lamatulia turun dari kayangan ke dunia (Bumi). Lamatulia turun di Rahampu’u tepatnya di mata air yang dinamakan Laa Laa. Pada mata air tersebut terdapat sebuah batu berbentuk bulan sabit, disiulah untuk pertama kalinya Lamatulia menginjakkan khaki di bumi dan disebut nenek dari Mokole Rahampu’u Matano.

Sketsa Hanya Ilustrasi 

Lamatulia bagi orang Matano digelari Mokole Ntii (Raja yang turun dari langit), setelah Mokole Ntii mangkat maka akan digantikan oleh anak keturunannya untuk meneruskan kepemimpinannya dari generasi ke generasi.

Kepemimpinan Mokole Wawainia Rahumpu’u pada saat ini dipegang dari La Makandiu dan La Sampalea dan beliau bergelar Wawainia Rahampu’u Matano. Masyarakat adat Rahampu’u dipimpin oleh seorang Mokole. Mokole Wawainia Rahampuu saat ini dijabat oleh H. Umar Ranggo Makandiu. 

Mokole Wawainia Rahmpu’u diangkat dan ditunjuk oleh Masyarakat Adat Rahampu’u Matano sebagai Mokole yang memimpin masyarakat adatnya. Mokole dibantu oleh para pemangku adat yang ditunjuk. Nama panggilan bangsawan di masyarakat adat Matano adalah MIU dan merupakan bahasa Ibu Matano.

Kompleks Makam Raja Terdahulu berada di Desa Matano

Kompleks Makan Raja-raja terdahulu, situs benteng tanah, dan situs mata air berada di Desa Matano. Situs Mokole merupakan kompleks makan Raja Rahampu’u di Desa Matano. Makam-makan tersebut ada yang mempunyai nisan berbentuk menhir mirip phalus dan menhir tegak lainnya yang bagian ujungnya meruncing. Bentuk nisan lainnya adalah ukiran sulur dari batu. Ada satu makan ini diberi pagar dari susunan batu adalah Makan Raja La Makandiu. Selain makan-makan yang terdapat di dalam pagar, di luar pagar juga terdapat makan lainnya kemungkinan adalah Raja-raja sebelum La Makandiu dan juga masih keturunan keluarga bangsawan Rahampu’u

Situs lainnya adalah situs benteng tanah yang terbuat dari tanah yang digali membentuk tanggul. Sisa benteng tanah tersebut tinggal sepotong karena sudah beralih untuk pemukiman penduduk. Situs mata air adalah tempat penemuan sebaran alat serpih, manik,manik, pecahan tembikar, keramik, serta logam dari sekitar area tersebut.

Sistem ada Kerajaan Rahampu’u tidak hanya mengatur tentang produksi besi tetapi juga menjaga kelestarian alam. Dalam pemenuhan kebutuhan sehari hari masyarakat adat matano sangat tergantung dengan Sumber Daya Alam dari gunung hingga ke danau. Oleh karena itu, masyarakat adat Matano sangat menjaga keberlangsungan ekosistem lingkungan di sekitarnya terutama Danau Matano.

Perkampungan Desa Adat Rahampu’u Matano berada di pesisir Danau Matano dan hutan ada di sekitarnya sejak dari dulu. Masyarakat adat membangun perkampungan di pesisir danau dan sekitarnya untuk menggantungkan hidupnya dari hasil uhutan dan danau dalam mencari nafka dan kebutuhan sehari hari.

Hutan adat boleh sama sekali dikelola secara sembarangan karena ada nilai penting bagi Masyarakat Adat termaksud pelaksanaan ritual dan tradisi adat Rahampu’u sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur

Pada masa lalu Kerajaan Rahampu’u juga mengelolah aktivitas peleburan besi hingga kegiatan perdagangan dari Kawasan Danau Matano ke daerah lainnya. Setelah Belanda mengkoloni Indonesia, terjadi perubahan secara sosial, ekonomi, dan politik di Kawasan tersebut.

Pada saat ini Lembaga bekerjasama dengan peneliti dari Puslit Arkenes mencoba mendalami lagi kebudayaan Rahampu’u Matano agar lestari dan dapat dipertahankan oleh generasi mendatang.

Industri Besi Matano

Produksi besi di Kawasan Danau Matano telah terjadi sejak masalalu. Para ahli memperkirakan bahwa masyarakat Matano telah menambang dan memproduksinya menjadi alat sekitar awal masehi hingga abad ke-17 masehi (Bulbeck dan Cadwell,2000)

Desa Matano merupakan desa ditepi danau yang tanahnya dikelilingi bukit-bukit yang mengandung biji besi. Oleh karena itu orang orang dari Desa Matano banyak mengambi besi dari alam dan cairan besi yang tersisa banyak tedapat pada permukaan tanah yang menyebabkan permukaan tanah menjadi keras dan tajam.

Produk dari Desa Matano sendiri berupa benda-benda perlengkapan prajurit seperti topi baja berwarna kekuningan. paku-paku besi, disamping senjata-senjata lokal berupa keris, parang, dan badik. Sisa pengerjaan benda logam masih terdapat di Desa Matano, berupa landasan besi yang masih in situ dan terak besi, sisa peleburan besi yang tersebar di wilayah Desa Matano dan disitus Arkeologi sekitar danau Matano.

Besi Matano sangat terkenal sebagai besi yang berkualitas tinggi bahkan Kerajaan Majapahit pada abad 13 Masehi pernah mengambil persenjataan sebagai alat perang. Besi Matano bahkan dikenal jauh sebelum penjajahan Belanda.

Peralatan Besi Desa Matano

Tradisi orang Matano (local genius) dalam mengolah besi telah membuktikan kemampuan pengelolaan sumberdaya alam yang cukup maju pada zamannya. Peleburan menggunakan tungku yang terbuat dari tanah liat dan dalam prosesnya juga menggunakan batu rijang yang mengandung silica sehingga mampu menghasilkan suhu pembakaran yang tinggi. Kemampuan mengatur api dan melebur bijih besi dengan mempertahankan suhu panas yang tinggi tercipta berbagai alat dan senjata besi merupakan sebuah inovasi budaya yang dimiliki tidak hanya untuk masyarat Matano tetapi bagi bangsa Indonesia.

Bullbeck mengatakan bahwa ‘Negeri Matano adalah negeri yang subur, dimana ditanam padi dan sagu serta menghasilkan besi yang baik hingga abad ke-20. Diperkirakan peralatan besi yang bahannya dari Matano menjadi komoditi perdagangan jarak jauh sampai ke Maluku, Jawa bahkan bijihnya di ekspor sampai ke Sumatera Bagian Utara.

Bullbeck mengatakan bahwa ‘Negeri Matano adalah negeri yang subur, dimana ditanam padi dan sagu serta menghasilkan besi yang baik hingga abad ke-20. Diperkirakan peralatan besi yang bahannya dari Matano menjadi komoditi perdagangan jarak jauh sampai ke Maluku, Jawa bahkan bijihnya di ekspor sampai ke Sumatera Bagian Utara.

Hingga saat ini kawasan Danau Matano masih menjadi Kawasan Industri pertambangan secara modern dimulai oleh PT.Inco pada tahun 1980-an, hingga saat ini dikelolah oleh PT. Vale Indonesia. Biji besi dari Matano tetap mendunia bahkan hingga masa modern seperti sekarang ini..

Menurut hasil peneletian arkeologi terbaru Pusat Penelitian Arkeologi Nasional menunjukkan bahwa peralatan besi yang dikenal dengan PAMORO LUWU diduga kuat berasal dari kawasan Danau Matano. Hasil pertanggalan karbon menunjukkan bahwa produksi besi di Danau Matano berkembang pada abad ke-8 Masehi, sehingga menjadikan kawasan ini sebagai tempat produksi besi salah satu yang tertua di Indonesia.

Peradaban Indonesia mampu membangun bangunan-bangunan monumental seperti Candi Borobudur dan Candi Prambanan yang telah menjadi Warisan Dunia oleh UNESCO. Pembangunan bangunan monumental tersebut diduga setelah masyarakat Nusantara mampu memproduksi peralatan logam (besi) secara massif dan massal. Bukan tidak mungkin Kawasan Danau Matano menjadi salah satu pusat produksi besi yang menyuplai peralatan yang dibutuhkan pembangunan Peradaban Indonesia.

Situs Arkeologi di Kawasan Danau Matano

A. Situs Rahampu’u

Situs Rahampu’u berada disebelah barat Danau Matano. terletak di Desa Matano.Kecamatan Nuha, Kabupaten Luwu Timur. Berdasarkan sebaran dan konsentrasi temuan, maka situs ini dibagi menjadi beberapa sektor. Sektor satu terletak di sekitar kolam wisata mata air Dusun Matano, tidak jauh dari pinggir danau. Secara astronomis terletak pada titik 2 27’22,5”LS dan 121 12’57,4” dengan ketinggian 407 meter dari permukaan laut (Mdpl).

Temuan yang terlihat pada permukaan adalah serpih batu chert, dan beberapa kerakal kerak logam (iron Slag).

Penggalian arkeologi (ekskavasi) dilakukan di pekarangan rumah warga sehingga memungkinkan untuk menemukan lapisan budaya utuh. Ekskavasi dilakukan menggunakan sistem kotak/box dengan pendalaman sistem spit interval 10cm. Tanah terasa kompak bertekstur danau berpasir dengan warna hitam kecoklatan.

Kotal Ekskavasi dan Tinggalan Pipa Tungku Berbahan Tanah Liat

Hasil ekskavasi di situs ini banyak menemukan artefak batu, berupa serpih yang terbuat dari batu rijang yang diduga digunakan untuk mematik api meningkatkan suhu dalam proses peleburan besi, dan juga sebagai alat. Selain itu, juga ditemukan banyak sekali Frargmen tembikar baik polos maupun bermotif. Pecahan tembikar yang ditemukan disitus ini diduga merupakan peralatan yang digunakan sehari-hari.

Dalam ekskavasi yang dilakukan situs ini. tim penelitian juga menemukan tumpukan batu yang diduga sebagai tungku pelebur besi. Hal ini diperkuat dengan ditemukannya pipa berbahan tanah liat yang berfungsi sebagai pengantar udara untuk meningkatkan suhu di dalam tungku peleburan. jumlah terak besi yang ditemukan juga sangat banyak, temuan ini menjadi bukti adanya aktivitas peleburan besi di masa lalu.

B. Situs Pulau Ampat

Situs arkeologi di Pulau Ampat berada di kedalaman sekitar 4 s/d 16 meter dan memiliki jarak pandang (visibility) yang sangat bagus sekitar 5 s/d 10 meter.

Pada kedalama 4 s/d 16 meter arkeologi menemukan sebaran fragmen tembikar yang sangat luat, sebaran tinggalan budaya di Situs Pulau Ampat diketahui seluas 4,6 km persegi. Selain tinggalan berupa fragmen tembikar,tim penelitian juga menemukan tulang binatang, serpih alat batu, terak besi, dan beberapa fragmen alat besi. (Adhityatama Triwurjani, dkk. 2017).

Situs Pulau Ampat ini diduga dahulu merupakan sebuah kampun panre besi yang cukup padat dan dimukim cukup lama. Hal ini terlihat dari tinggalan budaya yang berada di dalam yang cukup banyak. Diperkirakan kampung ini tenggelam dikarenakan adanya bencana gempa bumi karena letak dari situs ini beberapa tepat di atas sesar aktif Matano.

C. Temuan Artefak batu

Temuan artefak batu dari ekskavasi Situs Rahampu’u. Batu inti dengan indikasi pemangkasan serpih (A,B dan D). Batu inti yang juga di pangkas dan diretus dari sisi tepian. (C,E, dan F). Serpih utuh yang diretus pada sisi tepian (G,H).

KESIMPULAN

Peradaban Danau Matano adalah sebuah peradaban yang luhur karena memiliki sistem adat yang melindungi tidak hanya manusia yang tinggal di Kawasan Danau Matano tetapi juga melestarikan keberlangsungan alam disekitarnya.

Sumber daya alam yang dimiliki oleh Masyarakat Matano telah membantu menghasilkan sebuah kebudayaan yang sangat kaya, dari budaya material (artefaktual), bahasa, hingga gagasan berupa hukum adat.

Peradaban Danau Matano dapat dipastikan sebagai salah satu situs awal masa logam khususnya besi dan nikel di Indonesia maupun di Asia Tenggara. Hasil penelitian hingga tahun 2019 menunjukkan bahwa Kawasan Danau Matano merupakan industri pengelohan besi dan nikel setidaknya sejak abad ke-8 dan terus berlanjut hingga abad ke-18.

Fakta baru juga menunjukkan bahwa yang dikenal sebagai PAMORO LUWU berasal dari matano. Hal tesebut dibuktikan dari survei geologi dan analisis XRF akan bahan baku yang semua terdapat di Kawasan Danau Matano.

Dari hasil pengamatan dan penelitian, kami memiliki interprestasi bahwa masyarakat Danau Matano pada masa lalu telah mampu mengeolah dan memproduksi alat bebsi dan nikel dengan cara yang cukup maju. hal ini dibuktikan dengan pengolahan bahan besi dan nikel yang cukup rumit dan hal ini menjadi luar biasa karena teknik pemcampuran kedua bahan tersebut sudah dilakukan setidaknya dimulai sejak abad ke-10.